Posted by : prstyaarif Thursday, October 27, 2016



Halo!

Ketemu lagi di postingan jalan jalan saya.

Kali ini saya akan nyeritain pengalaman berharga (gratisan) yang saya dapatkan beberapa minggu yang lalu.

Ya, beberapa minggu yang lalu.

Latepost banget kan.

Jangan protes dulu...

Latepost ini terjadi karena saya perlu ngumpulin data-data yang akurat terkait tempat yang telah saya kunjungi ini.

.
.
.
.
.
Selain karena akhir-akhir ini sibuk banget ngupasin kerang --"
.
.

Oke di postingan kali ini, sesuai judul, saya bakal nyeritain pengalaman waktu ikut acara Family Gathering kantor di Pagaralam. 
Dan sesuai judulnya juga, bahwa postingan ini adalah sebuah Latepost, yang secara harfiah adalah sebuah postingan yang dipublikasikan secara telat atau terpaut jauh dengan waktu kejadian sehingga menghilangkan unsur aktualitasnya. 

Jadi beberapa bulan sebelum Agustus 2016, kantor kami berencana mengadakan Family Gathering untuk meningkatkan keakraban dan produktivitas dalam bekerja, sekaligus menyegarkan kembali fikiran dan menghilangkan kepenatan selama bekerja. Setelah mencari-cari referensi tempat liburan yang cocok, akhirnya dipilihlah Kota Pagaralam sebagai tujuan Family Gathering kami. Pagaralam dipilih karena secara lokasi tidak terlalu jauh dari Curup, selain itu fasilitas hiburan disana juga cukup lengkap.


Perjalanan ke Pagaralam

Sabtu, 27 Agustus 2016, sekitar pukul 08.00 WIB pagi kami bersiap di kantor untuk berangkat menuju Pagaralam. Kami menyewa bus dari Sekolah Polisi Negara (SPN) sebagai sarana transportasi ditambah dengan mobil dinas kantor yang disupiri oleh driver driver berpengalaman dan kuat ototnya.
Berdoa dulu sebelum berangkat agar selamat di perjalanan
Sekitar pukul 09.00 Pagi, setelah memastikan semua peralatan telah siap, kami berangkat menuju Pagaralam. 

Rute Curup-Pagaralam
Perjalanan dari Curup menuju Kota Pagaralam memakan waktu sekitar 4 jam melewati beberapa kota seperti Kepahiang, Pendopo, dan lain-lain. Jalur yang kami lewati (seperti yang tertera pada gambar diatas) sebenarnya adalah jalur yang terkenal sebagai jalur yang cukup rawan dan kurang aman. Terlebih di perbatasan antara Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan. Selain rawan pungli dan perampokan, kondisi sebagian ruas jalan yang rusak membuat perjalanan tidak begitu lancar. Namun syukurnya, perjalanan kami aman tanpa ada suatu kendala apapun walaupun di beberapa titik masih ada pungutan retribusi oleh masyarakat lokal. Mungkin keberadaan bus polisi yang kami tumpangi membuat nyali para rampok menciut bagaikan kerupuk yang tercebur ke air. 

Sekitar pukul 13.00 WIB kami tiba di alun-alun Kota Pagaralam. Disini kami menunaikan sholat zuhur terlebih dulu di mesjid alun-alun dan menunggu petugas dari Pagaralam Rafting untuk mengantarkan kami menuju penginapan.

Masjid Taqwa di Alun-Alun Kota Pagaralam


Akomodasi


Setelah bertemu petugas dari Pagaralam Rafting, kami diajak menuju lokasi penginapan. Dalam perjalanan menuju penginapan, kami berhenti di rumah makan untuk melaksanakan prosesi makan siang dengan khidmat.

Rumah Makan Lesehan Lagenda tempat kami makan siang secara lesehan
Rumah makan ini merupakan rumah makan rekanan dari Pagaralam Rafting yang dijadikan tempat kami makan selama di Pagaralam (makan siang dan makan malam pada hari Sabtu).

Kita makan dulu agar kuat menghadapi liburan
Dari alun-alun Pagaralam, butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk menuju penginapan kami. Lokasi nya berada di kaki gunung Dempo di antara luasnya perkebunan teh Pagaralam.

Villa tempat kami menginap
Setibanya di villa, hujan turun dengan derasnya sehingga hampir saja kami melanjutkan kegiatan dengan tidur-tidur manja. Untung saja teman-teman membawa banyak cemilan dan mainan yang bisa digunakan sebagai bahan yang manis untuk menunggu hujan reda.

Di kompleks villa ini banyak terdapat bangunan penginapan dengan berbagai jenis. Villa yang kami gunakan terdiri dari 3 kamar di setiap villa. Masing-masing kamar cukup digunakan oleh 3 orang dengan seukuran manusia Indonesia yang gizinya engga tinggi-tinggi amat. Setiap kamar juga memiliki kamar mandi sendiri dengan shower dan air panas yang berguna banget dalam kondisi cuaca dataran tinggi yang adem adem syahdu.

Penampakan villa dari belakang
Pemandangan di balkon belakang villa

Ruang tamu villa dengan cemilan dan mainan yang banyak dan manis
Harga sewa villa ini sekitar 1.5 juta rupiah per rumah dan harga ini bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kehendak dari pihak hotel dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan variabel-variabel lain yang diperlukan.
Akomodasi di villa ini sangat nyaman dan cocok digunakan sebagai tempat liburan bagi keluarga. Fasilitas yang diberikan juga cukup lengkap. Kompleks villa ini dijadikan sebagai one stop entertainment point yang memiliki restoran dengan live music, ruang pertemuan, kamar-kamar yang nyaman dan lain sebagainya. Banyak juga spot spot foto yang instagrammable yang menambah koleksi foto di galeri smartphone anda.

Kebun Teh Sepanjang Mata Memandang

Tepat ketika waktu Ashar tiba, cuaca mulai sedikit berkompromi dengan kami. Hujan mulai reda dan setelah menunaikan shalat, kami melanjutkan acara menuju lapangan di dataran yang lebih tinggi di perkebunan teh untuk foto bersama. 
Kompleks villa ini dikelilingi oleh hamparan kebun teh yang sangat luas dan berbukit-bukit. Sejauh mata memandang, hamparan hijau pepohonan teh begitu menyejukkan mata. Di sisi jauh, nampak berdiri kokoh Gunung Dempo dengan puncak yang saat itu tertutup awan mendung. Pemandangan yang sebenarnya hampir mirip dengan suasana di Curup namun disini lebih dikelola dengan profesional dan pariwisatatif (?). Di salah satu sisi kebun teh, terdapat undakan tangga yang digunakan sebagai jalur utama menuju puncak kebun teh (walaupun bukan puncak banget karena puncak kebun teh masih sampai punggung Gunung Dempo). Di ujung barisan tangga terdapat lapangan yang biasa dipake buat foto bersama dan bercanda-tawa sembari menikmati perkebunan teh dari ketinggian. Di lapangan tersebut juga terdapat fasilitas quadmotor/ATV yang bisa disewa dengan harga 30ribu per 30 menit mengelilingi lapangan luas.

Naik Motor Motoran dulu
Berpose dulu di jalur "pendakian" kebun teh
Pemandangan kebun teh dan kota Pagaralam (yang tidak terlihat) dari ketinggian

Berfoto bersama dengan latar Gunung Dempo agar para pemirsa percaya kalo kami memang benar benar ke Pagaralam

Keunggulan dari sarana dan prasarana di hotel ini menurut saya adalah fleksibilitas yang diberikan oleh pihak hotel kepada tamu yang datang. Seperti pada Sabtu malam ini kami meminta agar dapat diadakan acara bakar-bakar jagung untuk menghangatkan tubuh di cuaca pegunungan yang dingin. Pihak hotel dengan profesionalismenya melayani permintaan kami dengan menyiapkan peralatan bakar-bakar sembari kami menikmati santap malam di rumah makan Lagenda. Pihak hotel akan mengusahakan permintaan yang diajukan tamunya untuk menjaga kenyamanan selama menginap di kompleks hotel.
Bakar Jagung agar badan hangat dan jiwa sehat
Untuk malam hari, setelah bakar jagung, kami memiliki waktu bebas masing-masing. Sebagian dari kami lantas beristirahat setelah letih dalam perjalanan dan menyiapkan tenaga untuk acara hari Minggu yang akan lebih melelahkan. Namun, bagi anda yang menginginkan acara lain, pihak hotel mengadakan live music band di restoran yang disulap bagai kafe yang bisa dinikmati semua tamu hotel. Menurut pendengaran saya, live music masih berlanjut hingga pukul 04.00 dinihari. Minggu yang indah. Anda juga bisa hunting foto-foto night-landscape dengan kerlap kerlip lampu di sekeliling kompleks hotel yang akan lebih membuat galeri smartphone anda lebih variatif.




Arung Jeram!!!

Esok harinya, hari Minggu, 28 Agustus 2016 adalah hari terakhir kami di Pagaralam. Hari itu akan kami habiskan dengan mengarungi Jeram bersama Pagaralam Rafting. Sebelum berangkat menuju lokasi arung jeram, kami melaksanakan sarapan dulu di restauran hotel agar tubuh menjadi fit dan siap menaklukkan sungai Lematang yang buas.

Sarapan dulu agar kuat berenang
Selesai sarapan, kami mengemasi barang-barang dan siap berangkat menuju lokasi arung jeram. Lokasi arung jeram ditempuh kurang lebih 1.5 jam perjalanan dari hotel. Jalan yang ditempuh melalui sisi selatan gunung Dempo dan jalurnya lumayan ekstrim terutama untuk bis kami yang sempat terseok-seok menaiki tanjakan.

Sekitar pukul 9.30 pagi kami tiba di lokasi rafting. Di starting point ini sudah tersedia peralatan arung jeram seperti perahu karet, rompi pelampung, helm pelindung, dayung dan lain sebagainya.

Persiapan dulu sebelum berenang
Berfoto bersama para perenang-perenang yang handal dan bandel
Arung jeram di sungai Lematang Pagaralam ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan panjang pengarungan kurang lebih 7 kilometer. Selama pengarungan, seperti olahraga arung jeram pada umumnya, kita akan disuguhi pemandangan sungai yang indah dan jeram-jeram yang memacu adrenalin. Kalau di postingan sebelumnya saya sudah pemanasan dengan tubing rafting, di arung jeram ini memiliki jeram yang lebih dalam dan deras arusnya.

Sebelum mulai pengarungan, kami diberikan pengarahan singkat mengenai hal-hal yang harus dilakukan apabila tercebur ke air dan lain sebagainya. Pengarahan diberikan oleh guide yang profesional dan telah memiliki sertifikat sebagai guide yang terlatih untuk arung jeram.

serius mendengarkan arahan guide
Kami bersenang-senang bermain air



Agak berbeda dengan tubing rafting, pada arung jeram berperahu seperti ini, kerjasama tim sangat menentukan kelancaran kita dalam mengarungi sungai. Kekompakan masing-masing anggota perahu dalam mendengarkan aba-aba yang diberikan guide sangat penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tercebur ke jeram, perahu terbalik, dan sebagainya.

Pada awal-awal pengarungan, karena terlalu bersemangat mungkin, kami tidak terlalu mendengarkan aba-aba guide sehingga perahu kami menabrak batu di tengah jeram sehingga saya, sebagai salah satu anggota tim yang berada pada posisi paling depan, tercebur ke tengah derasnya jeram.

Apakah pembaca melihat seorang yang berenang di antara batu-batu?
Selama berada di air, saya dapat sampaikan bahwa jangan pernah menganggap remeh alam semesta ini karena manusia yang sekecil ini tentu bukan lawan yang tangguh bagi alam semesta. Yang perlu kita lakukan jika sudah tercebur di sungai adalah remain calm atau tetap tenang atau jangan panik walaupun susah banget untuk tetap tenang. Sebisa mungkin arahkan kaki ke arah hilir sungai dan kepala berada di arah hulu sungai. Sebisa mungkin tetap pegang dayung karena di ujung dayung kita ada kaitan yang bisa dikaitkan di ujung dayung teman di atas perahu. Ikuti saja arus jeram sampai membawa kalian ke bagian sungai yang tenang.
 




Biaya untuk rafting bersama Pagaralam Rafting adalah 360.000 per orang. Apabila ada 30 orang, ada diskon khusus menjadi 300.000 per orang. Harga bisa berubah sewaktu-waktu loh.
Bagi kalian yang berniat menggunakan kamera aksi (action cam), gunakanlah tongsis yang memiliki ujung tali yang bisa diikat di pelampung. Jangan memegang kamera di tangan karena dapat membahayakan diri dan memecah fokus. Selain itu hasil video dengan kamera di tangan tidak akan memuaskan.

Bagi kalian yang tidak sempat membawa action cam, tenang aja, sudah ada petugas dokumentasi khusus dari Pagaralam Rafting yang stand by di spot-spot tertentu. Ada juga petugas yang khusus membuat video dokumentasi dengan action cam yang mengambil gambar secara bergantian antar perahu. Kalian akan diberikan file foto dan video di finish point sebagai bahan untuk menuh-menuhin media penyimpanan digital anda.


Setelah mengarungi hamparan sungai, sekitar pukul 2 siang, kami tiba di finishing point. Di titik akhir ini ada sebuah jembatan gantung terbentang membelah sungai yang bisa digunakan oleh peserta arung jeram untuk lompat-lompat indah sembari menguji adrenalin. Video kami lompat-lompat dapat dilihat pada bagian akhir video dokumentasi yang saya buat yang link videonya akan saya taruh di akhir postingan ini.

Lompat-lompat bersama anak-anak lokal
Finishing Point Pagaralam Rafting merupakan sebuah rumah serbaguna yang menyediakan makan siang bagi peserta serta kamar mandi dan toilet untuk membersihkan diri setelah berbasah-basahan selamat mengarungi sungai.

Makan siang dulu sebelum pulang
 Pulang!!!

Selepas waktu ashar, kami berkemas untuk pulang ke Curup. Di perjalanan menuju Curup kami mampir ke kios oleh-oleh dan souvenir Pagaralam untuk membeli buah tangan untuk buah hati.

Pagaralam mantap...
Begitulah kiranya perjalanan saya bersama rekan kantor di Pagaralam. Kami tiba di Curup sekitar pukul 22.00 malam dan keesokan harinya kami harus memulai kembali Senin dengan semangat baru dan pegal-pegal yang baru.

Overall, bagi kalian yang berdomisili di sekitar Pagaralam atau bagi yang ingin mencari ketenangan dan kesegaran baru, Pagaralam bisa menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama rekan kantor ataupun keluarga. Pagaralam dengan semua keunikannya membuat wisata anda menjadi lebih berkesan.

Bagi kalian yang ingin nanya-nanya informasi terkait Pagaralam Rafting, bisa kontak penyelenggaranya di sini:



Oiya, video dokumentasi selama di Pagaralam sudah saya rangkum dan upload di youtube yang bisa kalian tonton di channel saya atau melalui link berikut ini:




Sampai jumpa di postingan jalan-jalan berikutnya!

{ 1 komentar ... read them below or add one }

  1. The IJOY Captain Kit is one of the world's smallest vape pod system devices
    with wireless charging cases innovative magnetic.
    The 1000mAh rechargeable charging case IJOY Shogun Kit show new up to 5 times.
    Working with built-in 200mAh battery, battery IJOY JUPITER vapeciga 9W max output,
    and various protection functions make the IJOY Mercury Vape click in safer to use.
    While Mipo Pod cartridge 1.4ml capacity and design features re-charging side.
    And equipped with IJOY Diamond coils get code for large cloud and optimal flavor.
    Just get one to enjoy great vaping!

    ReplyDelete

Site View

Coba lihat lebih ringkas di sini

Work From Home: Sebuah Fenomena.

Saat ini, dunia digemparkan dengan wabah COVID-19. Sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus dengan nama beken  Corona. Jutaan orang pa...

Prasetya Arif. Powered by Blogger.

Followers

- Copyright © Datang-Tiba-Sampai - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -