- Back to Home »
- Menamatkan Indonesia : JAVATrip2013 [part 3: Bes Bes Brebesss!!]
Posted by :
prstyaarif
Sunday, December 22, 2013
HELLO GOOD PEOPLE!!
[tolong jangan bosan dengan opening seperti ini!]
*sebelum mulai membaca postingan ini akan lebih baik jika anda semua ngeplay lagunya AKB48 yang Fortune Cookies! Kimochi!*
sebelumnya gue minta maap dulu buat keterlambatan postingan ketiga ini dikarenakan kesibukan gue sebagai pengangguran yang sangat menyita waktu dan tenaga.
NAAAH GUYS!
Berjumpa lagi di postingan terakhir dari rangkaian Trip seputar pulau Jawa. Setelah di bagian kedua yang lalu gue udah nyeritain panjang lebar tentang serunya perjalanan di seputaran Jawa Timur, kali ini gue bakal nyeritain perjalanan yang ngga kalah serunya di seputaran Brebes-Tegal.
Penasaran?! YUK capcus!
Selasa, 12 November 2013, seperti yang gue ceritain sebelumnya, adalah jadwal kami bertolak dari Malang menuju Tegal. Hujan deras menghantarkan kami meninggalkan kota Malang yang indah dengan mengendarai~~~~ kereeeeta maaaa~~laaam...
Tepat pukul 16.00 wib, kereta Matarmaja seharga 65ribu rupiah yang mengangkut kami berangkat menuju Tegal. Kalo di tiketnya nyebutin kami bakal nyampe stasiun Tegal jam 05.17 besok paginya. Jadi perjalanan ini lumayan panjang juga.
Perjalanan menuju Tegal ga jauh beda kayak perjalanan panjang sebelum sebelumnya, sebagian besar waktu dipake buat tidur, itung itung mulihin tenaga juga sih.
Walaupun tidur di kereta ekonomi itu tidak akan pernah sama rasanya seperti tidur di pelukan bunda.
Walaupun tidur di kereta ekonomi itu tidak akan pernah sama rasanya seperti tidur di pelukan bunda.
Tujuan kami sebenarnya adalah Brebes. Tetangganya Tegal. Namun karena kereta jarak jauh ini tidak berhenti di stasiun Brebes, cuma berhenti di Tegal, yang notabene adalah stasiun terdekat dari Brebes, makanya kami turunnya di Tegal. Kalo maksain turun di Jakarta Kota kan kejauhan babeh!
Singkat cerita sampailah kami di stasiun Tegal, kala itu sekitar jam 06 pagi. Ngaret sih tapi gapapa jadi lebih gampang juga karena hari sudah semakin terang. Pagi itu cerah sekali, orang-orang mulai sibuk berangkat kerja, berangkat sekolah, berangkat ke kantor, berangkat menjemput impian masing-masing. Sama seperti kami yang memutuskan langsung berangkat menuju Brebes.
Dari stasiun kami naik angkot satu kali menuju terminal. Dari terminal kami menumpang angkutan sejenis mini bus menuju Brebes.
Dari terminal menuju kediaman si Adi ngga terlalu jauh kok, cuma makan waktu kurang lebih 15 menitan. Ngelewatin Jalur Pantura a.k.a Pantai Utara yang ternyata tidak terlihat pantainya dan tidak terlihat dangdut pantura nya.
Yakali pagi pagi sudah dangdutan.
Lagian mau dangdutan di tengah jalan apa?
Nanti ketabrak truk gandeng gimana?
Truk aja gandengan, masa om engga?!
*skip*
Sampe di Brebes!!
Akhirnya kami tiba juga di kediaman Adi. Kediaman si Adi ini letaknya di jalur pantura itu, engga di tengah tengah jalan maksudnya, agak masuk gang dikit. Rumahnya asik, rame, ada balkonnya, bisa tolak tolakan. Keluarganya juga ramah ramah, ponakannya imut imut, pokoknya nyaman deh!
Seharian itu kami habiskan buat istirahat total. Akumulasi capek dari perjalanan selama di Jawa Timur sama perjalanan panjang kereta malam itu sungguh tak terkira. Tulang rasanya udah pada lentur semua kek karet bungkus ketoprak. Alhasil sepanjang hari itu kami beristirahat bertiga di atas kasur yang empuk.
Jantan sekali kan kami?!
Sorenya, sekitar pukul 17.00, salah seorang teman kami, Esti, atau Meta, atau Faiqoh, yang kebetulan berdomisili di Tegal, menyempatkan mampir ke kediaman Adi. Cewek ini hobinya galau. Sering nangis sendiri, alasannya kelilipan, tapi kelilipan benda apakah yang bisa membuat air mata bercucuran? Kelilipan batu bata kali.
Kebetulan si Esti ini sedang magang di salah satu instansi pemerintah di Kota Tegal. Sekalian ngobrol-ngobrol, kami akhirnya diajak ke salah satu wahana permainan masyarakat kota Tegal. Namanya Rita Park!
Jadi Rita Park ini adalah theme park kebanggaan kota Tegal. Wahana permainannya lumayan lengkap. Semacem Dufan lah kalo di Jakarta. Untuk masuk ke Rita Park ini ada dua jenis tiket yang bisa dipilih. Yang pertama harganya 5ribu, itu cuma masuk doang, kita ga bisa naik wahana apa apa, kalo mau naik wahana kita harus beli tiket di masing-masing ticket box deket wahana yang pengen dinaikin. Harga tiket wahananya beragam mulai 10ribu sampe 15ribuan. Nah, ada lagi tiket terusan, itu tiket sekalian bisa masuk area theme park dan naik wahana nya. Harga tiket terusannya 60ribu.
karena kami adalah traveller yang modalnya gede. Tentu saja, kami milihnya, tiket limaribuan dong!! Selain karena waktu itu udah malem, gerimis, dingin, angin, yang membuat keadaan sedikit kurang kondusif buat nikmatin wahana, kali itu juga adalah kali pertama gue dan jiro kesana, jadi ya liat liat dulu aja deh. daripada udah beli enampuluh ribu tapi ga naik apa apa? kan rugi.
*bilang aja ga ada duit, kang!*
Ketika masuk, betapa kagetnya kami, karena theme park yang satu ini sepinya minta ampun. Ga keliatan sama sekali pengunjung lain selain kami. Yang ada hanyalah rumput yang bergoyang dan mbak-mbak mas-mas petugas wahananya. Kata si esti memang beginilah keadaannya kalo bukan weekend ato hari libur, berasa punya sendiri. Kami sempat hampir menyerah saja dan memutuskan untuk kembali ke Brebes, andai saja kami tidak melihat wahana Boom Boom Car yang sangat menggugah selera. Akhirnya setelah beli tiket buat main wahana itu, kami dengan cerianya tabrak-tabrakan Boom Boom Car ditengah hujan yang menyelimuti kota Tegal. Asik sih, tapi rela bagi bagi?!
*sori ga ada dokumentasi buat Rita Park, tolong di imajinasiin aja*
*asal jangan jorok jorok ah*
*malu sama nenek*
Ke Kebun Teh, Yuk ke KALIGUA!!
Di hari Kamis 14 November ini, kami udah ngerencanain buat pergi ke suatu tempat yang direkomendasikan oleh sang tuan rumah. Nama daerahnya Kaligua, wilayahnya ada di daerah Selatan Brebes, di deket gunung Slamet (kata adi loh!), lebih tepatnya masuknya daerah Bumiayu (dari plang pinggir jalan yang gue liat, kalo salah jangan salahin gue, salahin plang itu! PLANG!).
Sekitar jam 8 pagi kami berangkat menuju Kaligua. Gue boncengan sama Indonesia's top Model, Jiro. Sementara Adi sendirian naik motor di depan kami. Untuk ke Kaligua butuh waktu sekitar 2-3 jam perjalanan. Lumayan panjang dan melelahkan juga sih. Terutama ketika mulai masuk daerah Bumiayu yang mendung-mendung mesra. Apalagi waktu udah mulai nyusurin punggung gunungnya, kabut tebal nyelimutin kami ditambah udara super dingin menusuk sanubari. Gue terus terusan manggil orang yang gue bonceng, takut dia beku ga ketauan.
Jack......
Jack......
Are you still there?
Setelah berjibaku dengan jalanan berbatu nan menanjak curam, kami tiba juga di pos tiket Kaligua. Udara kala itu tetap kabut, karena emang letaknya di dataran tinggi. Dingin, so pasti. Harga tiketnya 10ribu. Duaribu buat motornya, 8ribu buat manusianya (per orang).
Kaligua itu sebagian besar merupakan perkebunan teh yang luaaaas banget. Konon katanya, ini kebun teh udah ada sejak jaman penjajahan Jepang dulu. Makanya di salah satu sudut perkebunan ini, ada Goa Jepang, goa yang dibuat pada jaman penjajahan Jepang dulu sebagai basis pertahanan dari serangan musuh-musuh mereka. Goa Jepang ini akan jadi salah satu tujuan kami disini. Selain itu, kata si adi, tempat ini juga bisa dijadiin tempat perkemahan. Adi juga pernah kemah pramuka di sini katanya, dulu.... Dulu banget...
*waktu tentara Jepang yang njajah Indonesia masih balita*
Emang bener sih ada lapangan dan beberapa wahana outbound sederhana. Disini juga ada penginapan-penginapan (home stay) yang bisa di sewa buat siapapun yang pengen menghabiskan malam. Buat kami ga perlu, karena you know what, waktu kami tiba di Kaligua itu tengah hari, tapi udaranya dingiiiiiiiiiiiiin banget menggigil bro. Boro boro mau nginep ngabisin malem, wong tengah hari aja dinginnya kayak gitu. Berasa lagi ada dalam lemari pendingin.
*selain itu juga karena ga ada duitnye! teuteup*
Tujuan akhir kami adalah Goa Jepang, karena letaknya emang lumayan tinggi. Tapi, sembari jalan kaki menuju Goa Jepang, kami bakal ngelewatin beberapa tempat seru disini, so, sekalian deh mampir.
Di papan penunjuk jalan, katanya Goa Jepang cuma 1 kilometer lagi. Alhasil kami memutuskan untuk jalan kaki aja, motor kami parkir di tempat parkir yang sudah disediakan pengelolanya. Selain karena ga tau medannya, takutnya jalanannya malah gabisa dilewatin motor, kami juga ingin sambil nikmatin pemandangannya.
Tempat pertama yang kami lewati selain pemandangan hamparan luas kebun teh yang indah, adalah wisata Air Abadi Tuk Bening. Di tempat ini ada beberapa warung makan yang ngejual makanan makanan hangat. Selain itu juga ada bebek-bebekan yang langsung menghipnotis kami untuk menaikinya, menggenjot genjotnya............sampe puas.
Tapi boro-boro mau nggenjot bebek-bebekan sampe puas, hujan yang semakin deras membuat kami harus segera berteduh. Ditambah cuaca yang semakin dingin sampe nusuk tulang. Ditambah lagi persiapan kami dalam menghadapi cuaca seekstrim itu ngga siap siap amat. Cuma bermodal jaket andalan dan celana panjang. Tentu saja ngga ada khasiatnya sama sekali. Karena udara ga mendukung juga kami ga nyempetin ngeliat Tuk Bening. Kata Adi sih ya kaya mata air biasa tapi ga ada abis abisnya.
Di dekat sana ada pondokan gede buat berlindung dari hujan. Di sana kami beli minuman hangat dan makan bekal yang sudah dibawain oleh ibunya Adi. Baik sekali. Di tengah udara dingin menusuk hati dan sanubari, kami melahap makanan lezat itu!
---
Setelah sedikit cerah, kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang. Udara masih dingin banget. Kaki berasa kaku karena jalan udah jauuuuuh banget! Jarak goa jepang seperti yang tertulis di Papan penunjuk jalan itu sungguh adalah fiktif belaka semata. Udah lebih satu kilometer kami jalan kaki dan belum nemu adanya tanda tanda Goa Jepang. Selain itu, jalanan yang kami lalui bisa banget dilalui sepeda motor. Malah banyak warga sini yang bolak balik naik motor ngelewatin kami. Tau gitu kan ga harus capek banget jalan kaki kayak gini.
Tapi ga apalah.....
Dinikmatin ajah T___T
Ya Jepang laaaaaaaaaaaaaaaaaaah.
Sebenernya goa ini yang ngebuat ya orang orang kita juga, waktu dijajah Jepang. Romusha, ato kerja paksa istilahnya. Jadi rakyat sana dipaksa untuk ngebolongin gunung demi membuat goa jepang seperti yang ada sekarang. Goa ini dijadikan markas tentara Jepang, terutama waktu jaman-jamannya Jepang lagi terpojok. Mereka pada lari ke Goa Jepang Kaligua ini.
Untuk masuk ke sana, sebaiknya didampingin oleh mas-mas petugasnya agar ngga tersesat di dalemnya. Karena selain penerangannya seadanya, goa ini juga banyak cabang-cabangnya sehingga bikin bingung kalo baru pertama kali masuk.
Waktu nyampe sana, udah ada mas-mas yang setia nungguin pengunjung. Dia udah bersiap mau nganter kami masuk ke sana. Tapi waktu beliaua ngidupin lampu, ga ada respon apa apa dari dalem. YAK! saklarnya mati, sehingga ga mungkin masuk dalam goa dalam keadaan tanpa penerangan seperti itu. Kami sempat lemes ngeliat kenyataan ini. Jiro bahkan udah ngejambak kerah baju mas-mas itu.
"APA APAAN INI MAS! KATAKAN! KATAKAN YANG SEBENARNYA APA YANG SEDANG TERJADI!"
Gue sama Adi segera melerai pertengkaran itu, kami nenangin Jiro. Matanya memerah, otot-ototnya tegang.
Bagai malaikat, mas-mas tadi datang menghampiri kami yang diam menatap perkebunan teh yang damai. Mukanya bersinar, sambil memegang tongkat ia berkata kepada kami.
"Ya bisa sih dhek kalo mau masuk, tapi pake sinar dari hape kalian ajha yah. Karena saya ga bhawa senter. Malah lebih enak gelap, lebih kerasa hawa penjajahannya."
Kami segera terkesiap, mas-mas itu segera bersiap menghantarkan kami menuju gerbang kemerdekaan. Dengan semangat gue dan Adi menggotong Jiro yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
Ya, iya dirasuki oleh Jack dari Titanic.
---maaf keterusan dramanya---
TERNYATA, emang bener kata mas pemandu kami itu, lebih enak masuk goa saat cuma make lampu senter dari handphone yang seadanya gini. Lebih kerasa banget aura seremnya. Kita seakan dibawa lagi ke jaman ketika goa itu masih difungsikan sebagai pertahanan tentara. Penjara-penjaranya, ruangan ruangan strategisnya, semuanya sunyi, kerasa banget seperti kembali ke jaman penjajahan.
Goa jepang itu panjangnya kurang lebih 800m, tapi emang bener banyak cabangnya. Jadi emang lebih baik dipandu mas-mas yang udah berpengalaman. Daripada ga keluar keluar akhirnya menetap jadi penghuni goa bersama kalong kalong itu?
Dari goa jepang itu, kami kembali ke parkiran motor. Niatnya sih mau naik ke puncak tertinggi di sana. Katanya bisa ngeliat pemandangan kota yang lebih rendah. Tapi berdasarkan pemberitahuan dari ibu ibu di sana, cuaca kayak gitu lebih baik jangan naik ke atas. Bahaya. Yaudah akhirnya perjalanan kami di Kaligua kami akhiri. Sekitar jam 3 sore kami beranjak turun, pulang kembali menuju hiruk pikuk Brebes.
Dalam perjalanan pulang, kami ditemani oleh hujan deraaaaaas banget. Gue kala itu dibonceng Jiro. Karena udah ga mungkin nunggu hujan berhenti yang mungkin masih lama banget, akhirnya kami terobos aja itu ujan. Untung masih ujan air, walaupun deras, bukan ujan paku, apalagi ujan perasaan.
YIEEEEEE EELAAAAAH.
Alhasil, sekitar pukul 7 malam kami tiba di kediaman Adi lagi. Basah. Kuyup. Menggigil disko.
Tapi Kaligua gokil!!! Pemandangan sekeren itu sukses bikin kita makin cinta sama Indonesia! Hidup Kaligua! Hidup Indonesia! Sampai berjumpa di lain waktu. Mudah-mudahan engga keujanan lagi.
Jumat Sehat. Yuk Istirahat.
Hari Jumat, 15 November, kami ga kemana mana. Seharian blas di rumah Adi, mengistirahatkan tubuh yang semakin drop akibat perjalanan kemarin. Namun sorenya, sang tuan rumah yang ramah tak tega juga ngeliat kami yang hanya saling bertatapan tanpa berkata-kata. Akhirnya kami diajaklah mengunjungi Pantai Brebes.
Pantainya ga terlalu jauh dari kediamannya Adi. Sekitar 10 menit kami tiba di sana. Pantainya sebenernya asik, ombaknya lumayan mantep. Tapi sayang kebersihannya kurang dijaga. Banyak sampai di bibir pantainya. Padahal pasirnya bagus :(. Sayang banget sih, malah sampah-sampahnya kebanyakan sampah-entah-dari-mana-ga-masuk-akal-banget-bisa-ada-di-pantai, seperti pelepah pisang, pohon pisang (?), banyak deh. Tapi walaupun begitu, rugi keknya kalo ke pantai tapi ga nyemplungin diri di antara ombak-ombak seksinya. Alhasil kami segera menceburkan diri kesana. Main ombak walaupun sesekali dihampiri botol-botol air mineral dan sampah plastik lainnya.
Semoga nanti waktu kesana lagi udah lebih bersih dari sampah ya, yuk jaga kebersihan pantai Indonesia yang indah indah!
Mandi air hangat di Guci yuk.
Guci? yap guci!
Guci itu nama tempat pemandian air hangat di tegal. Bukannya porselen! Etdah masa mandi di dalam guci porselen. Gaboleh lah! Ada ada aja!!
--kan itu buat minum.
Waktu kami ga lama di sini, Jiro bahkan udah harus pulang Sabtu malem ini. Gue masih besok (minggu) pagi. Jadi ya hari Sabtu yang indah ini bakal kami habisin buat nyicipin mandi di air belerang yang engga beraroma belerang samsek! sama sekali!
Sebelum berangkat ke Guci, kami berkunjung ke kediaman Esti dulu di Tegal. Waktu itu hari lumayan mendung sih, hampir aja gajadi ke Guci karena keasyikan di rumah Esti yang nyamandan banyak makanannya.
Dari kediaman Esti ke Guci kurang lebih ditempuh dalam waktu 2 jam. Jalanannya asik, hampir sama kayak waktu ke Bromo, di sisi sisi jalannya terhampar pemandangan pegunungan yang indah.
Singkat cerita tibalah kami di objek wisata pemandian alam Guci, Tegal. Tempatnya asik, rame, dan banyak banget orang jualan. Jadi ga perlu takut kelaperan. Ga perlu takut ngerasa kedinginan juga, karena kita bisa nyemplung di kolam-kolam air hangat yang ada. Seru!
Biaya masuk ke Guci untuk Dewasa itu kalo di tiketnya tertulis Rp6400. Yak, enam ribu empat ratus rupiah, ga tau kenapa bisa begitu harganya. Nanggung banget kang.
Beruntung juga kami datang hari itu, karena di pelataran parkir Guci lagi ada promo salah satu produk rokok yang ngebuka booth berisi game-game berhadiah. Kami pun di tawarin main, iseng iseng nyoba, seru seruan, eh dapet tempat minum unik! Thanks!
Selesai seru-seruan di booth rokok, kami melanjutkan masuk menuju Kolam air hangatnya. Ga sabar nyicipin berendem di air hangat di tengah udara dingin pegunungan. SERU deh! Jadi di Guci itu ada beberapa kolam yang dibuat kayak sengkedan gitu, di setiap kolam ada beberapa pancuran yang ngalirin air panas dari gunung yang udah hangat waktu nyampe di kolam. Pancuran itu suka dipake buat pijit-pijitan sama pengunjung Guci.
Selain kolam air hangat, bersebelahan dengan kolamnya ada air terjun yang ga tinggi-tinggi amat tapi airnya enak banget dipake main di antara bebatuan kali. Segera saja kami nyemplung ke kolam itu. Selain dipake main, bebatuan di kolam juga enak banget dibuat ngelamun. apalagi ngelamunin gebetan yang tak kunjung memberi tanggapan.
YIEEEE EEELAAAAAH.
Sebenernya di Guci itu mbetahin banget. Tapi sayangnya kami ga bisa lama lama di sana. Karena malem ini Jiro udah harus pulang kembali ke rumahnya di Probolinggo, kami pun memutuskan untuk pulang kembali ke Tegal. Setelah menyantap bakso dan mi ayam hangat, kami melanjutkan perjalanan pulang. Tak lupa kami meninggalkan kenangan indah di hadapan bukit bukit indah di sisi jalan pulang. See you next time, Guci!!
Menemani kepulangan Jiro.
Sabtu malam itu, adalah perpisahan pertama kami setelah hampir sebulan bersama sama berpetualangan di pulau Jawa yang indah. Malam itu Jiro harus pulang kembali ke Probolinggo. Dari stasiun Tegal, kami melepas kepergian Jiro menuju kampung halamannya. Tentu saja setiap yang dimulai pasti akan diakhiri, dan perjalanan ini, selepas pulangnya Jiro menuju Probolinggo, resmi kami akhiri. Sampai jumpa lagi Jiro, di lain waktu dan kesempatan, semoga ada rezeki dan kesempatan lagi buat ngukir kenangan idup yang ga bakal dilupain.
---
Selesaikah sampai disini?
Ternyata belum! HAHA
Masih ada satu malam lagi gue disini, esti sama adi akhirnya ngajak gue ngunjungin pantai kebanggaan masyarakat Tegal. Namanya PAI.
Pendidikan Agama Islam?
Pa, Aku Ibumu?
*sangkuriang kali!*
Bukan, PAI itu singkatan dari Pantai Alam Indah. Tiket masuknya 5000 rupiah saja. Disana fasilitasnya lumayan lengkap, banyak warung warung makan yang menyediakan tempat makan di pinggir pantai. Namun karena kami datengnya udah malem, udah banyak warung yang tutup, dan tempat makannya, sayang sekali, banyak di manfaatin buat dijadiin tempat pacaran.
Apalagi itu malem minggu.
Sedih rasa hati.
Truk aja gandengan.
---
Sebenernya pantainya indah banget kok, bersih, ditambah malam itu bulan purnama menerangi malam. Syahdu banget buat dijadiin ajang curcol. Yang agak disayangkan ya kehadiran lapak-lapak yang nutupin pemandangan pantai dari jalan. Selain itu ya fungsi lapaknya jadi gajelas apalagi dimalam minggu yang syahdu begini.
---mana minumannya mahal banget---
Jadi ya lapak lapak itu milik para pedagang sekitar sana. Kita gabisa seenaknya make lapak itu, harus beli paling engga minuman. Nanti tiba tiba dateng aja mbak mbak nya entah darimana. Tau aje ade orang yang dateng.
Namun terlepas dari itu, gue puas kok walaupun cuma duduk di pasir pantai doang (cari gratisan). Malam terakhir di Tegal-Brebes kami abisin buat cerita cerita menatap ombak diterangi cahaya bulan yang indah. Sampai berjumpa lagi di pantai ini, semoga semakin cantik!
Bye Bye Time.
Minggu pagi, gue harus pulang lagi ke Jakarta, kembali ke realita kehidupan. Karena sorenya gue udah ditunggu sama kerjaan di Bintaro. Setelah pamit pamitan sama Adi dan keluarga, gue berangkat pulang ke Jakarta dengan kereta api Tegal Arum seharga 25ribu. Terima kasih Adi dan keluarga atas keramahan yang ga bakal bisa dibalas pake apapun.
Perjalanan gue keliling sebagian kecil pulau Jawa bareng sahabat terbaik memang sudah berakhir. Namun pengalaman dan kenangan yang udah kecipta ga bakal mungkin berakhir. Bermodal setengah nekat, gue berhasil kembali ke Jakarta lagi dengan selamat sentausa hingga tulisan ini dibuat. Bermodal setengah nekat juga, gue, akhirnya berani bilang, kalo 30-40 tahun lagi, gue ga bakal nyesel sama idup gue. Sama masa muda gue.
Mudah-mudahan kesampean ngomong ini. Amin.
Hehehe
Perjalanan gue emang cuma di sebagian kecil banget pulau Jawa. Masih banyak banget tempat indah di pulau Jawa yang belum sempet gue datengin. Tapi dari perjalanan kecil itu, gue dapet pelajaran yang besaaaar banget. Gue akhirnya ngerti gimana berharganya sahabat, teman, keluarga. Gue ngerti gimana keramahan masyarakat Indonesia. Gue akhirnya ngerti gimana budaya dan adat masyarakat yang beda sama gue.
Gue akhirnya tau, kalo Indonesia itu, LUAR BIASA INDAAAAAH!!!
---
Sampai jumpa di postingan postingan gue selanjutnya. Mudah mudahan tetap bisa nyeritain perjalanan perjalanan gue, hobi gue.
Terima kasih banget buat yang udah nyempatin waktu ngebaca tiga bagian postingan tentang JavaTrip2013 ini. Semoga akhirnya nanti kita bisa sama sama ngunjungin tempat lain lagi yang ga kalah indahnya.
I LOVE INDONESIA!
Dari stasiun kami naik angkot satu kali menuju terminal. Dari terminal kami menumpang angkutan sejenis mini bus menuju Brebes.
Dari terminal menuju kediaman si Adi ngga terlalu jauh kok, cuma makan waktu kurang lebih 15 menitan. Ngelewatin Jalur Pantura a.k.a Pantai Utara yang ternyata tidak terlihat pantainya dan tidak terlihat dangdut pantura nya.
Yakali pagi pagi sudah dangdutan.
Lagian mau dangdutan di tengah jalan apa?
Nanti ketabrak truk gandeng gimana?
Truk aja gandengan, masa om engga?!
*skip*
Sampe di Brebes!!
Akhirnya kami tiba juga di kediaman Adi. Kediaman si Adi ini letaknya di jalur pantura itu, engga di tengah tengah jalan maksudnya, agak masuk gang dikit. Rumahnya asik, rame, ada balkonnya, bisa tolak tolakan. Keluarganya juga ramah ramah, ponakannya imut imut, pokoknya nyaman deh!
Seharian itu kami habiskan buat istirahat total. Akumulasi capek dari perjalanan selama di Jawa Timur sama perjalanan panjang kereta malam itu sungguh tak terkira. Tulang rasanya udah pada lentur semua kek karet bungkus ketoprak. Alhasil sepanjang hari itu kami beristirahat bertiga di atas kasur yang empuk.
Jantan sekali kan kami?!
Sorenya, sekitar pukul 17.00, salah seorang teman kami, Esti, atau Meta, atau Faiqoh, yang kebetulan berdomisili di Tegal, menyempatkan mampir ke kediaman Adi. Cewek ini hobinya galau. Sering nangis sendiri, alasannya kelilipan, tapi kelilipan benda apakah yang bisa membuat air mata bercucuran? Kelilipan batu bata kali.
Kebetulan si Esti ini sedang magang di salah satu instansi pemerintah di Kota Tegal. Sekalian ngobrol-ngobrol, kami akhirnya diajak ke salah satu wahana permainan masyarakat kota Tegal. Namanya Rita Park!
Jadi Rita Park ini adalah theme park kebanggaan kota Tegal. Wahana permainannya lumayan lengkap. Semacem Dufan lah kalo di Jakarta. Untuk masuk ke Rita Park ini ada dua jenis tiket yang bisa dipilih. Yang pertama harganya 5ribu, itu cuma masuk doang, kita ga bisa naik wahana apa apa, kalo mau naik wahana kita harus beli tiket di masing-masing ticket box deket wahana yang pengen dinaikin. Harga tiket wahananya beragam mulai 10ribu sampe 15ribuan. Nah, ada lagi tiket terusan, itu tiket sekalian bisa masuk area theme park dan naik wahana nya. Harga tiket terusannya 60ribu.
karena kami adalah traveller yang modalnya gede. Tentu saja, kami milihnya, tiket limaribuan dong!! Selain karena waktu itu udah malem, gerimis, dingin, angin, yang membuat keadaan sedikit kurang kondusif buat nikmatin wahana, kali itu juga adalah kali pertama gue dan jiro kesana, jadi ya liat liat dulu aja deh. daripada udah beli enampuluh ribu tapi ga naik apa apa? kan rugi.
*bilang aja ga ada duit, kang!*
Ketika masuk, betapa kagetnya kami, karena theme park yang satu ini sepinya minta ampun. Ga keliatan sama sekali pengunjung lain selain kami. Yang ada hanyalah rumput yang bergoyang dan mbak-mbak mas-mas petugas wahananya. Kata si esti memang beginilah keadaannya kalo bukan weekend ato hari libur, berasa punya sendiri. Kami sempat hampir menyerah saja dan memutuskan untuk kembali ke Brebes, andai saja kami tidak melihat wahana Boom Boom Car yang sangat menggugah selera. Akhirnya setelah beli tiket buat main wahana itu, kami dengan cerianya tabrak-tabrakan Boom Boom Car ditengah hujan yang menyelimuti kota Tegal. Asik sih, tapi rela bagi bagi?!
*sori ga ada dokumentasi buat Rita Park, tolong di imajinasiin aja*
*asal jangan jorok jorok ah*
*malu sama nenek*
Ke Kebun Teh, Yuk ke KALIGUA!!
Di hari Kamis 14 November ini, kami udah ngerencanain buat pergi ke suatu tempat yang direkomendasikan oleh sang tuan rumah. Nama daerahnya Kaligua, wilayahnya ada di daerah Selatan Brebes, di deket gunung Slamet (kata adi loh!), lebih tepatnya masuknya daerah Bumiayu (dari plang pinggir jalan yang gue liat, kalo salah jangan salahin gue, salahin plang itu! PLANG!).
Sekitar jam 8 pagi kami berangkat menuju Kaligua. Gue boncengan sama Indonesia's top Model, Jiro. Sementara Adi sendirian naik motor di depan kami. Untuk ke Kaligua butuh waktu sekitar 2-3 jam perjalanan. Lumayan panjang dan melelahkan juga sih. Terutama ketika mulai masuk daerah Bumiayu yang mendung-mendung mesra. Apalagi waktu udah mulai nyusurin punggung gunungnya, kabut tebal nyelimutin kami ditambah udara super dingin menusuk sanubari. Gue terus terusan manggil orang yang gue bonceng, takut dia beku ga ketauan.
Jack......
Jack......
Are you still there?
Setelah berjibaku dengan jalanan berbatu nan menanjak curam, kami tiba juga di pos tiket Kaligua. Udara kala itu tetap kabut, karena emang letaknya di dataran tinggi. Dingin, so pasti. Harga tiketnya 10ribu. Duaribu buat motornya, 8ribu buat manusianya (per orang).
Kaligua itu sebagian besar merupakan perkebunan teh yang luaaaas banget. Konon katanya, ini kebun teh udah ada sejak jaman penjajahan Jepang dulu. Makanya di salah satu sudut perkebunan ini, ada Goa Jepang, goa yang dibuat pada jaman penjajahan Jepang dulu sebagai basis pertahanan dari serangan musuh-musuh mereka. Goa Jepang ini akan jadi salah satu tujuan kami disini. Selain itu, kata si adi, tempat ini juga bisa dijadiin tempat perkemahan. Adi juga pernah kemah pramuka di sini katanya, dulu.... Dulu banget...
*waktu tentara Jepang yang njajah Indonesia masih balita*
Emang bener sih ada lapangan dan beberapa wahana outbound sederhana. Disini juga ada penginapan-penginapan (home stay) yang bisa di sewa buat siapapun yang pengen menghabiskan malam. Buat kami ga perlu, karena you know what, waktu kami tiba di Kaligua itu tengah hari, tapi udaranya dingiiiiiiiiiiiiin banget menggigil bro. Boro boro mau nginep ngabisin malem, wong tengah hari aja dinginnya kayak gitu. Berasa lagi ada dalam lemari pendingin.
*selain itu juga karena ga ada duitnye! teuteup*
Di papan penunjuk jalan, katanya Goa Jepang cuma 1 kilometer lagi. Alhasil kami memutuskan untuk jalan kaki aja, motor kami parkir di tempat parkir yang sudah disediakan pengelolanya. Selain karena ga tau medannya, takutnya jalanannya malah gabisa dilewatin motor, kami juga ingin sambil nikmatin pemandangannya.
Tempat pertama yang kami lewati selain pemandangan hamparan luas kebun teh yang indah, adalah wisata Air Abadi Tuk Bening. Di tempat ini ada beberapa warung makan yang ngejual makanan makanan hangat. Selain itu juga ada bebek-bebekan yang langsung menghipnotis kami untuk menaikinya, menggenjot genjotnya............sampe puas.
Di dekat sana ada pondokan gede buat berlindung dari hujan. Di sana kami beli minuman hangat dan makan bekal yang sudah dibawain oleh ibunya Adi. Baik sekali. Di tengah udara dingin menusuk hati dan sanubari, kami melahap makanan lezat itu!
---
Setelah sedikit cerah, kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang. Udara masih dingin banget. Kaki berasa kaku karena jalan udah jauuuuuh banget! Jarak goa jepang seperti yang tertulis di Papan penunjuk jalan itu sungguh adalah fiktif belaka semata. Udah lebih satu kilometer kami jalan kaki dan belum nemu adanya tanda tanda Goa Jepang. Selain itu, jalanan yang kami lalui bisa banget dilalui sepeda motor. Malah banyak warga sini yang bolak balik naik motor ngelewatin kami. Tau gitu kan ga harus capek banget jalan kaki kayak gini.
Tapi ga apalah.....
Dinikmatin ajah T___T
Tips: Cari tau sejelas-jelasnya kondisi dan keadaan tempat yang akan lo kunjungin. Jangan sampe kayak pengalaman di Kaligua, lo ga tau medannya sehingga rela bercapek-capek ria jalan kaki ratusan meter. Selain itu, persiapan yang matang untuk ngadepin cuaca yang bakal terjadi sangatlah penting. Misal ketika lo bakal pergi ke gunung seperti ini, persiapkanlah amunisi yang cukup buat ngelindungin tubuh lo dari dingin yang menusuk tulang. Begitu juga ketika lo pergi ke tempat yang cuacanya panas terik. Persiapan yang kurang matang bakal ngurangin kepuasan lo dalam nikmatin tempat indah yang lo kunjungin.Nah setelah jalan capek capek. Kami tiba juga di mulut Goa Jepang. Goa ini, sesuai namanya, adalah, buatan Belanda.
Ya Jepang laaaaaaaaaaaaaaaaaaah.
Sebenernya goa ini yang ngebuat ya orang orang kita juga, waktu dijajah Jepang. Romusha, ato kerja paksa istilahnya. Jadi rakyat sana dipaksa untuk ngebolongin gunung demi membuat goa jepang seperti yang ada sekarang. Goa ini dijadikan markas tentara Jepang, terutama waktu jaman-jamannya Jepang lagi terpojok. Mereka pada lari ke Goa Jepang Kaligua ini.
Untuk masuk ke sana, sebaiknya didampingin oleh mas-mas petugasnya agar ngga tersesat di dalemnya. Karena selain penerangannya seadanya, goa ini juga banyak cabang-cabangnya sehingga bikin bingung kalo baru pertama kali masuk.
Waktu nyampe sana, udah ada mas-mas yang setia nungguin pengunjung. Dia udah bersiap mau nganter kami masuk ke sana. Tapi waktu beliaua ngidupin lampu, ga ada respon apa apa dari dalem. YAK! saklarnya mati, sehingga ga mungkin masuk dalam goa dalam keadaan tanpa penerangan seperti itu. Kami sempat lemes ngeliat kenyataan ini. Jiro bahkan udah ngejambak kerah baju mas-mas itu.
"APA APAAN INI MAS! KATAKAN! KATAKAN YANG SEBENARNYA APA YANG SEDANG TERJADI!"
Gue sama Adi segera melerai pertengkaran itu, kami nenangin Jiro. Matanya memerah, otot-ototnya tegang.
Bagai malaikat, mas-mas tadi datang menghampiri kami yang diam menatap perkebunan teh yang damai. Mukanya bersinar, sambil memegang tongkat ia berkata kepada kami.
"Ya bisa sih dhek kalo mau masuk, tapi pake sinar dari hape kalian ajha yah. Karena saya ga bhawa senter. Malah lebih enak gelap, lebih kerasa hawa penjajahannya."
Kami segera terkesiap, mas-mas itu segera bersiap menghantarkan kami menuju gerbang kemerdekaan. Dengan semangat gue dan Adi menggotong Jiro yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
Ya, iya dirasuki oleh Jack dari Titanic.
---maaf keterusan dramanya---
TERNYATA, emang bener kata mas pemandu kami itu, lebih enak masuk goa saat cuma make lampu senter dari handphone yang seadanya gini. Lebih kerasa banget aura seremnya. Kita seakan dibawa lagi ke jaman ketika goa itu masih difungsikan sebagai pertahanan tentara. Penjara-penjaranya, ruangan ruangan strategisnya, semuanya sunyi, kerasa banget seperti kembali ke jaman penjajahan.
Dari goa jepang itu, kami kembali ke parkiran motor. Niatnya sih mau naik ke puncak tertinggi di sana. Katanya bisa ngeliat pemandangan kota yang lebih rendah. Tapi berdasarkan pemberitahuan dari ibu ibu di sana, cuaca kayak gitu lebih baik jangan naik ke atas. Bahaya. Yaudah akhirnya perjalanan kami di Kaligua kami akhiri. Sekitar jam 3 sore kami beranjak turun, pulang kembali menuju hiruk pikuk Brebes.
Dalam perjalanan pulang, kami ditemani oleh hujan deraaaaaas banget. Gue kala itu dibonceng Jiro. Karena udah ga mungkin nunggu hujan berhenti yang mungkin masih lama banget, akhirnya kami terobos aja itu ujan. Untung masih ujan air, walaupun deras, bukan ujan paku, apalagi ujan perasaan.
YIEEEEEE EELAAAAAH.
Alhasil, sekitar pukul 7 malam kami tiba di kediaman Adi lagi. Basah. Kuyup. Menggigil disko.
Tapi Kaligua gokil!!! Pemandangan sekeren itu sukses bikin kita makin cinta sama Indonesia! Hidup Kaligua! Hidup Indonesia! Sampai berjumpa di lain waktu. Mudah-mudahan engga keujanan lagi.
Hari Jumat, 15 November, kami ga kemana mana. Seharian blas di rumah Adi, mengistirahatkan tubuh yang semakin drop akibat perjalanan kemarin. Namun sorenya, sang tuan rumah yang ramah tak tega juga ngeliat kami yang hanya saling bertatapan tanpa berkata-kata. Akhirnya kami diajaklah mengunjungi Pantai Brebes.
Pantainya ga terlalu jauh dari kediamannya Adi. Sekitar 10 menit kami tiba di sana. Pantainya sebenernya asik, ombaknya lumayan mantep. Tapi sayang kebersihannya kurang dijaga. Banyak sampai di bibir pantainya. Padahal pasirnya bagus :(. Sayang banget sih, malah sampah-sampahnya kebanyakan sampah-entah-dari-mana-ga-masuk-akal-banget-bisa-ada-di-pantai, seperti pelepah pisang, pohon pisang (?), banyak deh. Tapi walaupun begitu, rugi keknya kalo ke pantai tapi ga nyemplungin diri di antara ombak-ombak seksinya. Alhasil kami segera menceburkan diri kesana. Main ombak walaupun sesekali dihampiri botol-botol air mineral dan sampah plastik lainnya.
Semoga nanti waktu kesana lagi udah lebih bersih dari sampah ya, yuk jaga kebersihan pantai Indonesia yang indah indah!
Mandi air hangat di Guci yuk.
Guci? yap guci!
Guci itu nama tempat pemandian air hangat di tegal. Bukannya porselen! Etdah masa mandi di dalam guci porselen. Gaboleh lah! Ada ada aja!!
--kan itu buat minum.
Waktu kami ga lama di sini, Jiro bahkan udah harus pulang Sabtu malem ini. Gue masih besok (minggu) pagi. Jadi ya hari Sabtu yang indah ini bakal kami habisin buat nyicipin mandi di air belerang yang engga beraroma belerang samsek! sama sekali!
Sebelum berangkat ke Guci, kami berkunjung ke kediaman Esti dulu di Tegal. Waktu itu hari lumayan mendung sih, hampir aja gajadi ke Guci karena keasyikan di rumah Esti yang nyaman
Dari kediaman Esti ke Guci kurang lebih ditempuh dalam waktu 2 jam. Jalanannya asik, hampir sama kayak waktu ke Bromo, di sisi sisi jalannya terhampar pemandangan pegunungan yang indah.
Singkat cerita tibalah kami di objek wisata pemandian alam Guci, Tegal. Tempatnya asik, rame, dan banyak banget orang jualan. Jadi ga perlu takut kelaperan. Ga perlu takut ngerasa kedinginan juga, karena kita bisa nyemplung di kolam-kolam air hangat yang ada. Seru!
Biaya masuk ke Guci untuk Dewasa itu kalo di tiketnya tertulis Rp6400. Yak, enam ribu empat ratus rupiah, ga tau kenapa bisa begitu harganya. Nanggung banget kang.
Beruntung juga kami datang hari itu, karena di pelataran parkir Guci lagi ada promo salah satu produk rokok yang ngebuka booth berisi game-game berhadiah. Kami pun di tawarin main, iseng iseng nyoba, seru seruan, eh dapet tempat minum unik! Thanks!
Selain kolam air hangat, bersebelahan dengan kolamnya ada air terjun yang ga tinggi-tinggi amat tapi airnya enak banget dipake main di antara bebatuan kali. Segera saja kami nyemplung ke kolam itu. Selain dipake main, bebatuan di kolam juga enak banget dibuat ngelamun. apalagi ngelamunin gebetan yang tak kunjung memberi tanggapan.
YIEEEE EEELAAAAAH.
Sabtu malam itu, adalah perpisahan pertama kami setelah hampir sebulan bersama sama berpetualangan di pulau Jawa yang indah. Malam itu Jiro harus pulang kembali ke Probolinggo. Dari stasiun Tegal, kami melepas kepergian Jiro menuju kampung halamannya. Tentu saja setiap yang dimulai pasti akan diakhiri, dan perjalanan ini, selepas pulangnya Jiro menuju Probolinggo, resmi kami akhiri. Sampai jumpa lagi Jiro, di lain waktu dan kesempatan, semoga ada rezeki dan kesempatan lagi buat ngukir kenangan idup yang ga bakal dilupain.
---
Selesaikah sampai disini?
Ternyata belum! HAHA
Masih ada satu malam lagi gue disini, esti sama adi akhirnya ngajak gue ngunjungin pantai kebanggaan masyarakat Tegal. Namanya PAI.
Pendidikan Agama Islam?
Pa, Aku Ibumu?
*sangkuriang kali!*
Bukan, PAI itu singkatan dari Pantai Alam Indah. Tiket masuknya 5000 rupiah saja. Disana fasilitasnya lumayan lengkap, banyak warung warung makan yang menyediakan tempat makan di pinggir pantai. Namun karena kami datengnya udah malem, udah banyak warung yang tutup, dan tempat makannya, sayang sekali, banyak di manfaatin buat dijadiin tempat pacaran.
Apalagi itu malem minggu.
Sedih rasa hati.
Truk aja gandengan.
---
Sebenernya pantainya indah banget kok, bersih, ditambah malam itu bulan purnama menerangi malam. Syahdu banget buat dijadiin ajang curcol. Yang agak disayangkan ya kehadiran lapak-lapak yang nutupin pemandangan pantai dari jalan. Selain itu ya fungsi lapaknya jadi gajelas apalagi dimalam minggu yang syahdu begini.
---mana minumannya mahal banget---
Jadi ya lapak lapak itu milik para pedagang sekitar sana. Kita gabisa seenaknya make lapak itu, harus beli paling engga minuman. Nanti tiba tiba dateng aja mbak mbak nya entah darimana. Tau aje ade orang yang dateng.
Namun terlepas dari itu, gue puas kok walaupun cuma duduk di pasir pantai doang (cari gratisan). Malam terakhir di Tegal-Brebes kami abisin buat cerita cerita menatap ombak diterangi cahaya bulan yang indah. Sampai berjumpa lagi di pantai ini, semoga semakin cantik!
Bye Bye Time.
Minggu pagi, gue harus pulang lagi ke Jakarta, kembali ke realita kehidupan. Karena sorenya gue udah ditunggu sama kerjaan di Bintaro. Setelah pamit pamitan sama Adi dan keluarga, gue berangkat pulang ke Jakarta dengan kereta api Tegal Arum seharga 25ribu. Terima kasih Adi dan keluarga atas keramahan yang ga bakal bisa dibalas pake apapun.
Perjalanan gue keliling sebagian kecil pulau Jawa bareng sahabat terbaik memang sudah berakhir. Namun pengalaman dan kenangan yang udah kecipta ga bakal mungkin berakhir. Bermodal setengah nekat, gue berhasil kembali ke Jakarta lagi dengan selamat sentausa hingga tulisan ini dibuat. Bermodal setengah nekat juga, gue, akhirnya berani bilang, kalo 30-40 tahun lagi, gue ga bakal nyesel sama idup gue. Sama masa muda gue.
Mudah-mudahan kesampean ngomong ini. Amin.
Hehehe
Perjalanan gue emang cuma di sebagian kecil banget pulau Jawa. Masih banyak banget tempat indah di pulau Jawa yang belum sempet gue datengin. Tapi dari perjalanan kecil itu, gue dapet pelajaran yang besaaaar banget. Gue akhirnya ngerti gimana berharganya sahabat, teman, keluarga. Gue ngerti gimana keramahan masyarakat Indonesia. Gue akhirnya ngerti gimana budaya dan adat masyarakat yang beda sama gue.
Gue akhirnya tau, kalo Indonesia itu, LUAR BIASA INDAAAAAH!!!
---
Sampai jumpa di postingan postingan gue selanjutnya. Mudah mudahan tetap bisa nyeritain perjalanan perjalanan gue, hobi gue.
Terima kasih banget buat yang udah nyempatin waktu ngebaca tiga bagian postingan tentang JavaTrip2013 ini. Semoga akhirnya nanti kita bisa sama sama ngunjungin tempat lain lagi yang ga kalah indahnya.
I LOVE INDONESIA!
wowoowwwww...
ReplyDeletesampai jumpa suatu saat nanti...
amin.. btw kamu siapa ya? sepertinya kenal. haha
DeleteMasak gak kenal aku...?
DeleteAku adalah Ariel Noah alias Herjunot Ali alias Musuh terbaru Batman alias Vino G. Bastian alias Samuel Zylgwin alias Afgan lagi ikut game Karaoke..
Postingan superrrr~ ngakak sepanjang jalan kenangan hahaha
ReplyDeletethanks bro.,,, hahaha
Deletewah, #javatrip2013 paling suka part ini. kehujanannya nggak sebanyak part sebelumnya. eh.
ReplyDeletetp semua part sukses bikin ketawaketawa. keep writing pak bos~
wehehe terima kasih nur, ke depannya bakal lebih banyak hujannya, insya Allah. haha
DeleteKalo masuk gua jepang jadi putih lhooo... :)
ReplyDeleteohiya? ga kerasa sih dulu soalnya udah pada putih putih :)
Deletekecuali Jiro.
bagus banget semua postingan javatripnya!!! suka!!
ReplyDeleteMakasih...
Delete