- Back to Home »
- FENOMENA »
- Menyalurkan Hobi di bulan Ramadhan
Posted by :
prstyaarif
Sunday, August 5, 2012
Assalamualaikum wr.wb
Saya adalah seorang remaja berumur 20 tahun, yang sedang menimba ilmu di negeri rantau, tepatnya di Jakarta. Kampung halaman saya terletak di Kota Curup, sebuah kota kecil di Provinsi Bengkulu, yang berada di tengah pulau Sumtera dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan.
Keadaan kami sebagai mahasiswa rantau menyebabkan kami baru bisa berkumpul bersama keluarga maksimal 2 kali setahun, yaitu pada libur semester ganjil, dan libur semester genap. Libur semester genap selalu bertepatan dengan bulan Ramadhan, karena sekaligus libur untuk Puasa dan Lebaran.
Saya, seperti kebanyakan "bujang" disini, sebutan untuk para pemuda di kota kami, memiliki hobi bermusik. Ya, saya sangat suka bermusik karena menurut saya, dengan bermusik, seseorang dapat mengekspresikan apa yang dirasakannya dengan cara yang lebih "berseni". Kegiatan bermusik kami dimulai ketika kami telah sampai di kampung halaman, kumpul bareng, dan mulai berkegiatan.
Bulan Ramadhan kali ini, seperti puasa puasa tahun tahun yang lalu, tidak menyurutkan niat kami untuk bermusik, malah kegiatan ini kami jadikan ajang untuk menghabiskan waktu sembari menunggu berbuka puasa dengan lebih bermanfaat.
Seperti biasa, kegiatan kami lakukan dengan saling bertukar ilmu bermusik, teknik teknik memainkan alat musik, dan lain sebagainya. Kebetulan beberapa teman saya juga kuliah di luar pulau Sumatera, sehingga sedikit banyak, ada ilmu yang bisa kami tukarkan bersama teman teman.
Sore itu, seperti hari hari biasa, kami kumpul dengan niat bertukar ilmu baru yang kami dapat di negeri orang. Semua kegiatan berjalan seperti biasanya, dan tibalah waktu kami untuk pulang karena hari sudah semakin gelap, pertanda buka puasa sudah akan tiba. Ketika saling menghidupkan mesin kendaraan kami untuk pulang, salah seorang teman memberikan ide, kenapa kami tidak mengadakan sebuah acara bermusik di kota ini, mengundang beberapa teman lain yang berhobi sama, ikut menghibur masyarakat kota yang sekedar lewat, atau sengaja datang untuk menonton.
Saya, dan teman lain yang kumpul sore itu langsung merespon baik sekali ide teman saya ini, semangat kami begitu membara untuk mengadakan festival musik kecil kecilan di kota ini. Selain untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, kota ini juga sepi sekali dengan acara yang menampung kreativitas pemuda pemudi nya. Maka kami berharap dengan acara ini akan ada banyak sekali manfaat yang bisa kami dapatkan.
Alhasil pembicaraan permulaan selesai, kami pun pulang ke rumah masing masing untuk santap buka bersama keluarga. Sebelum pulang tak lupa kami mengatur waktu berkumpul lagi malam setelah tarawih.
Malamnya, kami pun kumpul di kediaman salah satu teman. Disana kami mulai membicarakan konsep acara yang akan diusung, waktu, tempat, apa apa yang dibutuhkan, dan semua hal yang terkait dari mulai perencanaan kegiatan sampai pelaksanaan kegiatannya.
Beberapa kendala, tentu saja kami temukan. Kendala pertama adalah mencari tempat acara yang strategis, karena kami ingin mengadakan sebuah acara musik yang bebas ditonton oleh masyarakat, artinya, acara ini harus diadakan di pinggir jalan protokol, sehingga dapat disaksikan oleh semua warga yang melintas.
Kedua, masalah alat musik yang akan dipakai, karena diantara kami, tidak ada yang mempunyai alat musik lengkap yang bisa dipakai untuk full-band.
Ketiga masalah peserta acara, dan perizinan, perizinan disini tentu saja izin mengadakan acara, izin keramaian di kepolisian, termasuk izin kepada para tetangga di tempat kami akan mengadakan acara nanti.
Malam itu, kami belum bisa menemukan solusi dari masalah kami. Kesulitan terbesar kami adalah, modal kami sendiri adalah hanya bermodal semangat menghibur kota. Itu saja. Untuk modal dana, ya, bisa ditebak, untuk kantong kami, dana yang kami punya pun, rasanya tidak akan mungkin untuk membiayai acara yang kecil tapi membutuhkan dana yang cukup besar itu.
Malam selanjutnya, ketika berkumpul lagi, ada sedikit titik terang dari acara ini. Kebetulan, ketika masih SMA, kami kenal dengan baik dengan seorang yang memiliki alat musik lengkap dan membuka usaha rental musik (studio band). Singkat cerita setelah menghubungi beliau, kami disambut sangat baik, dengan semangat yang sangat membara, alhamdulillah ternyata kami dan dia mempunyai pandangan yang sama, mempunyai impian yang sama untuk mengadakan acara bermusik di kota ini.
Sejak malam itu, kami banyak menghabiskan waktu di studio band untuk membahas berbagai kendala dan rencana kegiatan yang akan dilakukan di hari berikutnya. Dari teman teman yang lain kami mendapatkan saran tempat kegiatan, yang letaknya cukup strategis, di jalan protokol, mempunyai halaman luas, dan cukup menampung puluhan orang yang ingin menonton. Setelah dapat tempat, kami menghubungi teman teman yang lain, untuk dapat ikut berpartisipasi sebagai pengisi acara kami, memainkan beberapa lagu sebagai ajang "ngabuburit" di bulan puasa. Masalah masalah lain, seolah berjalan dengan lancar, solusi solusi seolah datang dengan sendirinya. Masalah perizinan, selesai kami urus di kepolisian dengan lancar, para tetangga menyambut baik kegiatan kami, malah ada yang ingin ikut berpartisipasi mengisi acara. Masalah publikasi pun berjalan lancar, tidak ada kendala yang begitu berarti dalam kami mempublikasikan acara kami. Selain dengan spanduk, pamflet, kami juga memanfaatkan jejaring sosial seperti twitter, facebook, blackberry messenger untuk menyebarluaskan acara kami ini.
Akhirnya, tibalah kami di hari-H pelaksanaan acara kami, acara yang kami beri nama Harmony Ramadhan itu dimulai pada pukul 15.00 sore, alhamdulillah, berjalan sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Semua pengisi acara datang, penonton pun rame, baik dari kalangan remaja, sampai kepada kalangan orang tua.
Beberapa teman yang ikut menonton acara kami, kagum kepada semangat kami untuk menghibur kota yang seolah "kering" tanpa adanya "siraman" hiburan seperti ini. Acara ini diakhiri pada pukul 17.30 sore.
Kami pun, setengah tak percaya, bahwa kami, akhirnya, dapat melaksanakan acara ini dengan lancar, capek yang kami rasakan selama perencanaan, terbayar lunas dengan kesuksesan acara kami. Dengan hanya bermodal "dengkul" akhirnya kami bisa membuktikan bahwa semangat adalah modal utama dalam melakukan sesuatu.
Hari itu, kami tutup dengan berbuka bersama para panitia yang merupakan teman teman yang luar biasa ini. Sebaris senyuman tak pernah lepas dari bibir kami hari itu.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua teman yang sangat luar biasa semangatnya, tanpa berharap imbalan apapun, dapat tetap meluangkan waktunya untuk acara ini, sampai kepada kesuksesan acara ini.
Keadaan kami sebagai mahasiswa rantau menyebabkan kami baru bisa berkumpul bersama keluarga maksimal 2 kali setahun, yaitu pada libur semester ganjil, dan libur semester genap. Libur semester genap selalu bertepatan dengan bulan Ramadhan, karena sekaligus libur untuk Puasa dan Lebaran.
Saya, seperti kebanyakan "bujang" disini, sebutan untuk para pemuda di kota kami, memiliki hobi bermusik. Ya, saya sangat suka bermusik karena menurut saya, dengan bermusik, seseorang dapat mengekspresikan apa yang dirasakannya dengan cara yang lebih "berseni". Kegiatan bermusik kami dimulai ketika kami telah sampai di kampung halaman, kumpul bareng, dan mulai berkegiatan.
Bulan Ramadhan kali ini, seperti puasa puasa tahun tahun yang lalu, tidak menyurutkan niat kami untuk bermusik, malah kegiatan ini kami jadikan ajang untuk menghabiskan waktu sembari menunggu berbuka puasa dengan lebih bermanfaat.
Seperti biasa, kegiatan kami lakukan dengan saling bertukar ilmu bermusik, teknik teknik memainkan alat musik, dan lain sebagainya. Kebetulan beberapa teman saya juga kuliah di luar pulau Sumatera, sehingga sedikit banyak, ada ilmu yang bisa kami tukarkan bersama teman teman.
Sore itu, seperti hari hari biasa, kami kumpul dengan niat bertukar ilmu baru yang kami dapat di negeri orang. Semua kegiatan berjalan seperti biasanya, dan tibalah waktu kami untuk pulang karena hari sudah semakin gelap, pertanda buka puasa sudah akan tiba. Ketika saling menghidupkan mesin kendaraan kami untuk pulang, salah seorang teman memberikan ide, kenapa kami tidak mengadakan sebuah acara bermusik di kota ini, mengundang beberapa teman lain yang berhobi sama, ikut menghibur masyarakat kota yang sekedar lewat, atau sengaja datang untuk menonton.
Saya, dan teman lain yang kumpul sore itu langsung merespon baik sekali ide teman saya ini, semangat kami begitu membara untuk mengadakan festival musik kecil kecilan di kota ini. Selain untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, kota ini juga sepi sekali dengan acara yang menampung kreativitas pemuda pemudi nya. Maka kami berharap dengan acara ini akan ada banyak sekali manfaat yang bisa kami dapatkan.
Alhasil pembicaraan permulaan selesai, kami pun pulang ke rumah masing masing untuk santap buka bersama keluarga. Sebelum pulang tak lupa kami mengatur waktu berkumpul lagi malam setelah tarawih.
Malamnya, kami pun kumpul di kediaman salah satu teman. Disana kami mulai membicarakan konsep acara yang akan diusung, waktu, tempat, apa apa yang dibutuhkan, dan semua hal yang terkait dari mulai perencanaan kegiatan sampai pelaksanaan kegiatannya.
Beberapa kendala, tentu saja kami temukan. Kendala pertama adalah mencari tempat acara yang strategis, karena kami ingin mengadakan sebuah acara musik yang bebas ditonton oleh masyarakat, artinya, acara ini harus diadakan di pinggir jalan protokol, sehingga dapat disaksikan oleh semua warga yang melintas.
Kedua, masalah alat musik yang akan dipakai, karena diantara kami, tidak ada yang mempunyai alat musik lengkap yang bisa dipakai untuk full-band.
Ketiga masalah peserta acara, dan perizinan, perizinan disini tentu saja izin mengadakan acara, izin keramaian di kepolisian, termasuk izin kepada para tetangga di tempat kami akan mengadakan acara nanti.
Malam itu, kami belum bisa menemukan solusi dari masalah kami. Kesulitan terbesar kami adalah, modal kami sendiri adalah hanya bermodal semangat menghibur kota. Itu saja. Untuk modal dana, ya, bisa ditebak, untuk kantong kami, dana yang kami punya pun, rasanya tidak akan mungkin untuk membiayai acara yang kecil tapi membutuhkan dana yang cukup besar itu.
Malam selanjutnya, ketika berkumpul lagi, ada sedikit titik terang dari acara ini. Kebetulan, ketika masih SMA, kami kenal dengan baik dengan seorang yang memiliki alat musik lengkap dan membuka usaha rental musik (studio band). Singkat cerita setelah menghubungi beliau, kami disambut sangat baik, dengan semangat yang sangat membara, alhamdulillah ternyata kami dan dia mempunyai pandangan yang sama, mempunyai impian yang sama untuk mengadakan acara bermusik di kota ini.
Sejak malam itu, kami banyak menghabiskan waktu di studio band untuk membahas berbagai kendala dan rencana kegiatan yang akan dilakukan di hari berikutnya. Dari teman teman yang lain kami mendapatkan saran tempat kegiatan, yang letaknya cukup strategis, di jalan protokol, mempunyai halaman luas, dan cukup menampung puluhan orang yang ingin menonton. Setelah dapat tempat, kami menghubungi teman teman yang lain, untuk dapat ikut berpartisipasi sebagai pengisi acara kami, memainkan beberapa lagu sebagai ajang "ngabuburit" di bulan puasa. Masalah masalah lain, seolah berjalan dengan lancar, solusi solusi seolah datang dengan sendirinya. Masalah perizinan, selesai kami urus di kepolisian dengan lancar, para tetangga menyambut baik kegiatan kami, malah ada yang ingin ikut berpartisipasi mengisi acara. Masalah publikasi pun berjalan lancar, tidak ada kendala yang begitu berarti dalam kami mempublikasikan acara kami. Selain dengan spanduk, pamflet, kami juga memanfaatkan jejaring sosial seperti twitter, facebook, blackberry messenger untuk menyebarluaskan acara kami ini.
Akhirnya, tibalah kami di hari-H pelaksanaan acara kami, acara yang kami beri nama Harmony Ramadhan itu dimulai pada pukul 15.00 sore, alhamdulillah, berjalan sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Semua pengisi acara datang, penonton pun rame, baik dari kalangan remaja, sampai kepada kalangan orang tua.
Beberapa teman yang ikut menonton acara kami, kagum kepada semangat kami untuk menghibur kota yang seolah "kering" tanpa adanya "siraman" hiburan seperti ini. Acara ini diakhiri pada pukul 17.30 sore.
Kami pun, setengah tak percaya, bahwa kami, akhirnya, dapat melaksanakan acara ini dengan lancar, capek yang kami rasakan selama perencanaan, terbayar lunas dengan kesuksesan acara kami. Dengan hanya bermodal "dengkul" akhirnya kami bisa membuktikan bahwa semangat adalah modal utama dalam melakukan sesuatu.
Hari itu, kami tutup dengan berbuka bersama para panitia yang merupakan teman teman yang luar biasa ini. Sebaris senyuman tak pernah lepas dari bibir kami hari itu.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua teman yang sangat luar biasa semangatnya, tanpa berharap imbalan apapun, dapat tetap meluangkan waktunya untuk acara ini, sampai kepada kesuksesan acara ini.
Postingan ini dalam rangka Lomba Blog Pojok Pulsa:
Pojok Pulsa – Pulsa Elektrik - Pulsa Murah - Voucher Game Online.
Mau Pulsa Gratis? Follow: @pojoktweet | Facebook Page Pojok Pulsa | Pojok Pulsa Google Plus Page