Archive for 2020
Work From Home: Sebuah Fenomena.
Saat ini, dunia digemparkan dengan wabah COVID-19. Sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus dengan nama beken Corona. Jutaan orang panik dibuatnya. Tak terkecuali Indonesia. Sejak 02 Maret 2020 lalu ketika pemerintah mengumumkan dua pasien positif pertama di negeri ini, COVID-19 mencuri perhatian seluruh warga. Ekonomi lesu, aktivitas warga terhambat, pailit membayangi, serta efek-efek domino lainnya.
Tapi cukup bicara tentang COVID-19. Terlalu banyak membahas itu malah membuat imun menurun. Sebagaimana imbauan banyak ahli tentang mengurangi konsumsi berita negatif, marilah kita sisihkan dulu Corona.
Ada fenomena baru yang tercipta akibat pandemi ini. Akibat pembatasan-pembatasan sosial yang digaung-gaungkan pemerintah dan para aktivis, terjadi penyesuaian besar-besaran terutama dalam proses bisnis organisasi. Salah satu yang paling hangat dibicarakan adalah: Work From Home (WFH).
WFH atau KDR jika di-Indonesia-kan (Kerja Dari Rumah), adalah "gaya baru" para karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan dan menghasilkan output tanpa datang langsung ke bangunan kantor. Tak hanya di swasta/perusahaan, instansi pemerintah berduyun-duyun menerbitkan aturan masing-masing tentang penerapan WFH dan sejenisnya. Para programmer bekerja siang-malam merampungkan aplikasi berbasis Web untuk karyawan bekerja. Seluruh karyawan berpeluh belajar cara menggunakan aplikasi konferensi video, mengisi daftar hadir daring, merekam output kerja, dan hal-hal baru lainnya.
Pada beberapa organisasi mungkin WFH bukan hal baru. Bisa jadi sudah ada organisasi yang memang orang-orangnya tersebar di seluruh negeri dan menyelesaikan pekerjaan dari rumah masing-masing. Namun, WFH menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar organisasi. Walaupun beberapa institusi tidak serta-merta bisa menerapkan WFH dengan paripurna, namun setidaknya hal ini menarik dibahas. Apakah bisa bekerja dari rumah saja?
Saya segera berdiskusi dengan rekan ketika mendapatkan aturan WFH bagi instansi kami. Sebagaimana instansi lain, kantor kami pun melakukan rombak proses bisnis untuk menghindari tatap muka dan mengedepankan sarana daring (online). Portal-portal yang selama ini dijadikan basis data kepegawaian, ditambahkan fitur-fiturnya agar bisa mendukung pelaksanaan WFH. Satu hal yang saya dan rekan lihat dari fenomena ini. Jika saat ini (ketik pandemi) kita bisa menyiapkan sarpras untuk melaksanakan WFH, kenapa tidak dilakukan seterusnya setelah wabah ini mereda nanti? Toh saat ini sudah jalan hampir (atau lebih) satu bulan sejak penerapan WFH pertama kali. Artinya, kita bisa memanfaatkan teknologi informasi dan digitalisasi yang selama ini setengah dicuekin.
Penerapan teknologi terutama yang berbasis internet, terbukti mampu mendukung berjalannya tugas pokok dan fungsi masing-masing organisasi baik itu swasta maupun pemerintah. Beberapa instansi pemerintah menurut pengamatan saya pribadi, tetap dapat memberikan layanan prima walaupun tanpa tatap muka.
Saya tidak tahu apakah sudah ada penelitian tentang ini (jika ada yang tahu boleh dibagi pada kolom komentar), namun harusnya WFH sudah selayaknya diteliti. Terutama mengenai ketercapaian output/outcome. Mungkin saja di beberapa organisasi, penerapan WFH malah semakin meningkatkan output daripada selama ini.
Asyik betul kan, apabila bisa kerja tapi tetap di rumah. Rapat di rumah. Disposisi dari rumah. Konsep surat dari rumah. Melakukan inovasi-inovasi juga dari rumah. Karyawan tidak perlu susah-susah ngekos/tinggal jauh dari keluarga karena bisa dilakukan di homebase masing-masing.
Melihat kondisi saat ini, dengan situasi serba darurat dan mendadak, WFH pun dapat dijalankan walaupun dengan keterbatasan-keterbatasan di beberapa bagian (yang harus dimaklumi). Hal ini menjadi penanda sebenarnya WFH bisa diaplikasikan seterusnya. Pada masa normal, tentu saja pemenuhan fasilitas dan sarana pendukung WFH yang belum maksimal, dapat dipenuhi dengan lebih baik.
Pada akhirnya, wabah ini mengubah kebiasaan orang. Termasuk dalam bekerja, sekolah, dan sebagainya. Era digitalisasi seperti sekarang ini seharusnya bukan menjadi penghalang bagi para pengambil kebijakan untuk berani menerapkan budaya baru dalam bekerja yang lebih berbasis kinerja dan output, tidak lagi menerapkan gaya-gaya jadul dalam bekerja.
Mari WFH!
