Archive for April 2013

Three Days of Joy at Pari Island [part 1]

Halo sobat Curhat!

Maap baru muncul lagi setelah lama tak kelihatan karena beberapa hari yang lalu gue bersama temen sekelas lagi ngadain acara keakraban di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Jadi ceritanya masih capek :_(

Nah oleh karena itu gue ngerasa perlu berbagi cerita bagaimana dahsyatnya jalan jalan sembari mempererat keakraban bersama temen temen seperjuangan di Pulau Pari.

Pulau Pari itu terletak di gugusan Kepulauan Seribu, sebelah utara DKI Jakarta. Karena bentuknya pulau, jadi otomatis dong, udah tau dong kesana naik apaan?

ya, odong odong...

bebas aja bebas, ekspresiin aja...

#skip

Nah kenapa kami memilih pulau Pari?

Menurut penerawangan Ki Joko Bodo, pintar tapi Bodo, Pulau Pari itu enak, enaknya kenapa? enak ajah pokoknya. Enak. Udah gitu aja.

Yang jelas sih karena pengen suasana baru dari kehidupan Jakarta dan sekitarnya yang gitu gitu aja. Kalo engga orang traktak dung des lagi kawinan, eh ribut ribut depan pintu rumah orang, ngegosipin lidia kandou mau cere sama maher Zayn. #bebas

nah oleh karena itu kami menimbang dan memutuskan untuk bersama sama pergi ke pulau pari. sebuah pulau dengan seribu keindahan. Belum ngitung satu satu sih, tapi ya anggap aja ini seribu.

Day 1 : The Journey, begins.

*gelak gaul banget judulnya*
Nah day 1 ini bertepatan dengan Jum'at 5 April 2013. Kala itu ayam pun masih terlalu ngantuk untuk berkokok, sementara kami sudah sibuk mempersiapkan barang barang dan pernak pernik yang akan dibawa. Ketika itu kami berkumpul di depan kampus. Ga usah nanya gimana bisa ngumpul depan kampus, kan udah dikasih tau, di smsin atuk atuk orangnye biar pada ngumpul. Jangan berfikiran awam banget deh.

#skipya!

Oiya, posisi kami kala itu berada di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. And for your information saja untuk ke Pulau pari kita harus ke Pelabuhan untuk kapal (yaeyyalah!) terdekat, yang ternyata jauh, di Muara Angke, Jakarta Utara. Tapi itu masih terbilang deket sih, daripada kita ngambil pelabuhan di selatan Jawa, ntar nyebrangnya harus ngelewatin Terusan SUEZ dulu kan ribet. Jadi mending dari Muara Angke saja.

Kami berangkat dari Bintaro sekitar pukul 5.30, itu sudah termasuk kesiangan loh. Karena hari itu adalah hari kerja, jadi kami harus berlomba lomba dengan mobil mobil dan kendaraan lain yang ikut berpacu ke tempat kerja mereka masing masing.

Kenapa harus sepagi ini?

Jadi gini, kapal kapal yang akan membawa kami menyebrang ke Pulau Pari itu berangkatnya pukul 07.00 Pagi! Nah kalo dihitung hitung, seharusnya, jika kondisi lalu lintas Jakarta lancar Jaya kayak beol abis makan sayur sekarung, berangkat dari Bintaro pukul 05.30 pagi pun masih keburu. Tapi karena kondisi lalu lintas Jakarta yang padet banget (apalagi pagi pagi di hari kerja), maka jam 5.30 itu sudah termasuk kategori kesiangan! oh Poor Jakartans. Cabal yaps!

Singkat cerita berangkatlah kami menuju Pelabuhan, kala itu kami berangkat naik ini:

dalemnye, udah percaya aje!
Nah, luxurious bus kami perlahan lahan bergerak meninggalkan Bintaro tersayang menuju Muara Angke terbau tercinta. Di tengah perjalanan, seperti yang sudah bisa ditebak, terutama di jalanan protokol Jakarta, macet! haks! kami mencoba bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota besar, ditengah kepungan asap pekat, ditengah kerumunan anak adam yang entah pada mau kemaneeee ini rame banget dah elah!

Singkat cerita, setelah struggle untuk tetap hidup di perjalanan kota jakarta, kami tiba di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Ini sebenarnya adalah TPI, bukan telepisi pendidikan indonesia yang tayangannya ga ada yang mendidik, tapi TPI stands for Tempat Pelelangan Ikan. Kenapa dilelang? ya iseng aja biar keren. Udah gitu aja alasannya.

Kami tiba sekitar pukul 07.15 pagi. Matahari kala itu udah gak tau malu melototin kami yang bagai butiran debu ditengah hujan deras ini (jangan tanya artinya apa).

Setelah sampai kami langsung menghampiri loket pembelian tiket kapal yang akan menyeberangkan kami ke pulau Pari. Rame rame kami mendatangi loket tersebut. Sehingga sang abang bingung sekaligus takut, hingga hampir melepaskan jabatannya sebagai "tukang jaga loket tiket" dengan pangkat letnan satu. Seketika itu kami langsung menghentikan niat si abang untuk terjun bunuh diri ke laut karena kami segera menjelaskan bahwa kami hanya mau beli tiket.

Beginilah kira kira percakapan kami kala itu bersama si-abang-penjaga-loket-tiket

K = Kami (rame rame, ngomong semua, barengan)
A = abang-tukang-jaga-loket-tiket-kapal-yang-akan-menyeberangkan-kami-ke-pulau-Pari

K = SAMLEKUM!!!
A = JANGAN! JANGAN BUNUH AKU! JANGAN! ANAK ISTRIKU MASIH KECIL! JANGAN!

*kemudian si abang berlari ke pinggir dermaga dan hidup bahagia selamanya disana*

THE END!

Singkat cerita lagi nih, gue sama temen temen sukses sampe di loket, tapi ada hal yang bikin kaget setengah mati jantung serasa berhenti berdetak hati terasa cabik dikoyak koyak.

TERNYATA KAPAL YANG AKAN MEMBAWA KAMI KE PULAU PARI SUDAH BERANGKAT KIRA KIRA 15 MENIT YANG LALU!

ini adalah momen ketika keputusasaan kami berada pada titik kulminasi maksimal. ketika itu kami bingung, sedih, putus asa, terpuruk dengan keadaan yang menimpa kami. Sungguh berat cobaan Tuhan kali ini, kami hanya berharap kami dapat menanggung beban kehidupan ini dengan pundak yang kuat.

kami langsung berlari ke sudut dermaga, dan menatap laut yang tenang dengan tatapan putus asa. Beberapa dari teman gue sudah meronta ronta untuk mencebur ceburkan dirinya ke laut yang ganas. Kami berusaha mencari jalan keluar atas kebuntuan ini. Sungguh kami hanyalah butiran debu di tempat pelelangan ikan.

Belum habis air mata kami meratapi kesedihan ini, seorang abang-temennya-si-abang-tukang-jaga-tiket berlari membawa layangan yang diterbangkan di belakang kepalanya. Sebuah sinar jatuh dari atas langit tepat membahasi tubuhnya. Sinar itu tak lain adalah sinar kehidupan yang didatangkan dari nirwana.

Si abang itu datang ke kami, menghampiri kami, menegakkan pundak pundak kami yang sudah tak bertenaga untuk berdiri, menatap mata kami dalam dalam, dan berkata dengan lirih...............

"kapalnya sudah saya telpon, sebentar lagi kembali kesini, untung belum jauh, he he he.."

SEKETIKA itu kami terperanjat, kami terengah, seakan tak percaya tentang mukjizat yang diberikan Tuhan kepada kami, sebuah mukjizat yang sangat dahsyat! Kami langsung berdiri dari kesedihan, berlari ke ujung dermaga, menatap lautan luas, merentangkan tangan, berbaris rapi, berteriak dengan lantang.............

dan langsung melakukan kegiatan senam SKJ pagi bersama peni ros yang sudah setia menunggu dengan legging ketatnya.

Beginilah kira kira keadaan kami pagi itu, bersama peni ros

NAH singkat cerita, setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kapal yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Pari tiba dan merapat kembali di pelabuhan. Ya, kapal ini sudah berangkat pukul 07.00 tadi karena merasa sudah tidak ada yang perlu diangkat angkat lagi ke kapal. Tapi setelah tahu bahwa kami terdiri atas banyak orang, maka kapal ini dengan sukarela langsung kembali ke haluan.

Ini lah kapal yang kami tumpangi untuk sampai di Pulau Pari.

ini (pastinya) bukan kapal Budi, kaya amat si budi

EH MAAP duh ini internetnya kacau jadi salah upload terus, bukan kapal itu, tapi ini:

Kapal yang biasa ngangkutin orang ke Pari island
*dua orang yang berpose itu adalah
penduduk asli pulau Pari*
EITS tapi jangan salah, walaupun begitu bentuknya itu kapal, isinya kan begini:

Udah percaya ajeeeh!

Ketika kapal tiba di pelabuhan, kami bergegas menaiki kapal itu dengan susah payah dan perjuangan ekstra. Beberapa menit kemudian kami berhasil menaiki kapal tersebut dan segera mencari tempat berlindung dari gempuran nuklir korea utara. Ketika memasuki bagian dalam kapal, sungguh terhenyak batin kami karena menyaksikan kondisi dalam kapal yang serba crowded, dibagian depan kapal, di bawah Dashboard (entah apa namanya kalo dikapal T_T), di jejel jejelin berbagai macam sembako dan bahan makanan yang akan dibawa entah kemana, entah ke Pulau Pari atau ke Pulau Lainnya. Ratusan butir telur di tempatkan seadanya di dalam peti kayu, berkardus kardus mi instan dan minuman ringan serta sayur mayur, beras, terigu dan lain sebagainya ditempatkan dan ditumpuk seadanya di bagian depan kapal.

Melirik ke tengah, kami serasa dihantarkan menuju zaman ketika krakatau baru meletus, ribuan orang bergelatakan dan bergelimpangan di lantai kapal, ada yang tiduran, ada yang senderan, ada yang menatap kosong ke laut, ada juga yang menatap kosong ke orang yang menatap kosong ke laut.

Gue yakin Pak Imam Bondjol pasti kaget kalo ngeliat keadaan ini, keadaan ini lebih buruk daripada ketika Perang Paderi sedang seru serunya.


Jika bisa digambarkan, mungkin beginilah kondisi dalam kapal saat itu.

comot gugel!

Perlahan lahan kapal bergerak, maju membelah lautan dan menerjang ombak lautan Jawa di pagi hari yang cerah. Kami bersiap memulai perjalanan ini. Let the Journey begins!

Sampai berjumpa di Part 2 :-)

HA HA HA HA

Saturday, April 13, 2013
Posted by prstyaarif

Site View

Coba lihat lebih ringkas di sini

Work From Home: Sebuah Fenomena.

Saat ini, dunia digemparkan dengan wabah COVID-19. Sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus dengan nama beken  Corona. Jutaan orang pa...

Prasetya Arif. Powered by Blogger.

Followers

- Copyright © Datang-Tiba-Sampai - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -